Ketika pasangan memutuskan untuk menikah, maka harapannya
kedua insan tersebut bersama-sama sepanjang hidup sampai ajal menjelang.
Tetapi apa yang terjadi?
Satu demi satu teman-teman saya mengalami gonjang-ganjing
masalah dalam pernikahannya justru diusia pernikahan sesudah
puluhan tahun.
Setahun ini ada 2 kenalan yang memutuskan berpisah diusia
pernikahan ke 27. Salah satu pasangan bahkan berstatus kakek-nenek.
Alasannya beragam, ada yang merasa anak-anak sudah besar dan
tidak perlu bimbingan orangtua lagi.
Ada yang merasa tidak ada kecocokan sejak lama dan merasa
inilah saat yang tepat untuk memutuskan sesuatu.
Ada teman lain lagi yang teman hidupnya menjalin hubungan
dengan bekas pacar. Dan berencana untuk membangun pernikahan
baru dengan bekas pacar ini lalu menduakan istrinya yang telah
mendampinginya selama 27 tahun.
Komitmen berpasangan harapannya adalah menerima pasangan
dengan segala kekurangan-kelebihan dalam senang-susah dan
dimasa muda-tua.
Kenapa ketika tubuh mulai tua, ketika kekurangan menjadi
semakin jelas dan ketika kesenangan hanya tinggal kenangan,
pasangan-pasangan itu tidak saling menopang sehingga dapat
tetap berjalan berdampingan?
Kenapa ketika tubuh mulai tua, lalu memutuskan inilah saatnya
untuk ditinggalkan?
Kenapa kekurangan yang ada dibiarkan menjadi semakin besar
nampak kekurangannya, tanpa pernah dibicarakan upaya untuk
memperbaiki kekurangan menjadi kelebihan?
Kenapa kesenangan yang pernah dilakukan bersama anak-anak,
tidak dilakukan lagi sebagai pasangan?
Banyak pertanyaan ‘kenapa’?…..
Saya selalu iri dengan pasangan sepuh, diusia pernikahan ke
40sekian, masih akur, masih asyik berbincang dan masih selalu
melakukan banyak hal bersama-sama.
Bersyukurlah pasangan-pasangan itu yang sudah sampai pada tahap
‘kamu adalah yang terbaik yang dititipkan Allah SWT kepadaku’….
TANPAMU APALAH ARTINYA DIRIKU……