Mungkin arti harfiahnya comfort zone adalah area yang menyenangkan.
Area apa dan menyenangkan untuk siapa?
Kalau untuk anak-anak yang sudah dewasa, sudah bekerja tetapi masih tinggal dengan orangtuanya.
Comfort zone nya yaaa itu, tinggal dengan orangtua itu.
Tidak memikirkan bayar listrik, makan tinggal makan, kadang-kadang menyumbang orangtua.
Bagaimana kalau tiba-tiba orangtua menanyakan :
Kapan dia membentuk keluarga?
Kapan dia akan punya rumah sendiri?
Nah, mulailah anak berpikir …..
Oh iya yaaa…. saya harus berubah.
Atau seseorang yang tidak berpikir untuk pindah kerja mencari yang lebih menantang atau bergaji besar, tetapi nrimo saja kondisi yang dia peroleh sekarang ini.
Itulah comfort zone.
Seseorang yang sudah “nyaman” dengan kondisinya.
Sementara orang lain, menilainya sebagai orang yang apatis dan pasif serta tidak punya keingingn untuk maju dan berkembang.
Kembali ke masalah anak dengan comfort zone nya tadi.
Bisa jadi dia nyaman dengan comfort zone nya, tetapi orangtuanya gemas melihat ketidakpeduliannya.
Sebetulnya….. apakah memang betul ada comfort zone?
Atau seseorang itu memang “malas” untuk berkembang?