Ayah saya meninggal tahun 1997 dan dimakamkan di Kalibata – Jakarta.
Ayah & ibu mertua pun dimakamkan di Tanah Kusir – Jakarta.
Ibu saya, adik-adik ibu saya, kakak & adik-adik saya dan kakak-kakak suami semua bertempat tinggal di Jakarta.
Sudah menjadi tradisi di keluarga kami, di hari Idul Fitri, kami sekeluarga, kakak saya dan suaminya, kami sekeluarga dan adik saya dan keponakan saya mengantarkan ibu untuk ziarah ke makam ayah saya.
Tradisi “nyekar” biasanya kami lakukan di hari ke dua, dengan harapan tidak seramai di hari pertama.
Dari Kalibata, dilanjutkan ke Menteng Pulo, ke makam kakak tertua saya, yang meninggal di tahun 1969, di usianya yang masih 19 tahun.
Siang harinya, kami sekeluarga melanjutkan perjalanan ke Tanah Kusir.
Untuk “nyekar” ke makam ayah dan ibu suami saya, yang dimakamkan berdampingan.
Waktu berlalu.
Tanpa terasa kami pun tidak sekuat dulu lagi tenaganya.
Perjalanan dari Bandung ke Jakarta, yang biasa kami lakukan sehari sebelum hari Raya, bergeser keesokan harinya.
Dengan demikian kami berangkat sesudah sholat Ied.
Perjalanan lebih santai, sepi karena melawan arus dan tidak dalam keadaan puasa.
Lalu, ritual ke makam menjadi hal-hal yang dirasa kurang penting.
Berbondong-bondong ke makam dengan fokus keselamatan dan kenyamanan Ibu, kenapa terasa melelahkan.
Kenapa harus ke makam ? Kenapa harus menabur bunga ? Kenapa harus berdo’a di makam ?
Toh, berdo’a untuk ayah saya, selalu saya lakukan setiap sholat.
Toh, tidak wajib dalam agama.
Iya sih, ziarah ke makam bagus untuk mengingatkan kita semua akan kematian.
Di tahun 2010, beberapa peristiwa terjadi.
Lalu diputuskan kami tidak ziarah, baik ke Kalibata, Menteng Pulo maupun ke Tanah Kusir.
Ritual ke makam ayah diwakilkan ke adik saya.
…………
Adik saya mengunggah foto-foto hasil ke makam ayah dan kakak saya tersebut ke e-mail kami semua.
Ada laporan-laporan tentang kondisi makam Kalibata dan Menteng Pulo.
Tiba-tiba saya merasa sedih, saya menangis dalam hati.
Saya rindu ke makam ……
Saya rindu ayah saya …..