Apsaras meraih mimpi.
Padasuatu hari Rabu, dia harus ke Jakarta untuk wawancara kerja.
Sebuah perusahaan desain komunikasi visual yang beralamat di
jalan Wijaya – Kabayoran, Jakarta Selatan.
Ternyata ada kecocokan tugas kerja, kesepakatan gaji dan lokasi
kantor. Diputuskan, Apsaras mulai kerja Senin.
Artinya hanya punya 4 hari untuk mencari tempat tinggal yang sesuai.
Memang ada rumah pakde yang siap menerima dengan tangan terbuka.
Tetapi Apsaras, didukung oleh ayah dan bundanya, memutuskan cepat
atau lambat harus bisa mandiri, tidak selalu tergantung pada kerabat.
Minggu pagi, saya berdua Apsaras berangkat ke Jakarta dengan bis kota.
Turun di Lebakbulus, perjalanan dilanjutkan dengan taxi.
Setelah melayat ke adik ibu saya yang wafat malam sebelumnya, maka
dengan diantar Tatah kami siap berburu kos untuk Apsaras.
Malam sebelumnya saya sempat browsing tempat kos putri yang berlokasi sekitar kantor Apsaras di www.infokost.net.
Dengan mempelajari melalui Google Earth, saya bisa membayangkan jarak antara kantor dan rumah.
Maka, tujuan pertama adalah jl. Dharmawangsa.
Kamar yang ditawarkan ber AC seharga 1,5 juta per bulan.
Kamar yang ditawarkan melalui internet, seharga 700 ribu, sungguh
tak layak sebagai kamar. Merupakan kamar loteng, berlantai kayu, tidak ada jendela yang bisa dibuka, dinding setengah kayu, atap asbes dan terletak di atas kamar mandi.
Perburuan dilanjutkan ke jl. Ketimun. Sampailah ke jl. Ketimun IV.
Deretan kamar-kamar, seharga 700 ribu tanpa AC, kamar mandi di dalam.
Atau sekitar 1 – 1,25 juta dengan AC.
Lalu, jl. Ketimun V. Berjalan kaki menyusuri jl. Antena.
Menyusuri jl. Petogogan, ke jl. Benda III.
Kembali lagi ke pasar blok A.
Kembali lagi ke jl. Ketimun VI dan VIII, berbelok ke jl. Kubis.
Mencatat nomor telpon yang ada di dinding rumah orang, di tiang listrik.
Keluar masuk ke kamar-kamar kos yang dicari, membandingkan kamar.
Membangunkan penjaga yang tengah tidur siang, maklum waktu itu bulan puasa, dan jam menunjukkan jam 15.00 WIB.
Berbincang dengan bu Mimih, mas Gino, pak H.Amrizal, menelpon penjaga kos Mama Nindhi.
Harga yang ditawarkan antara 350 ribu sampai 2,5 juta rupiah perbulan.
Dengan fasilitas yang berbeda, kamar mandi di dalam, kamar mandi di luar, AC, non Ac, WiFi, cuci dll.
Lelah menyergap. Setelah menelusuri 10 tempat kos berbeda, kami memutuskan kamar kos terakhir di rumah H.Amrizal – jl. Ketimun VI lah mungkin yang menjadi rumah kos Apsaras kelak.
Pemiliknya, suami-istri cukup ramah, kamar yang ditawarkan standar, 700 ribu perbulan.
Menjelang maghrib, kami diantarkan ke rumah PakDe, tempat Apsaras
menginap selama ini, atau sampai mendapatkan tempat kos yang memadai.
Tiba-tiba, suami dari Bandung menelpon, bahwa saudara sahabatnya di jl. Birah juga mempunyai kos-kosan. Kebetulan ada 1 kamar kosong.
Setelah berbuka dan sholat maghrib, dengan menyewa bajaj, saya dan Apsaras melanjutkan perburuan.
Rumah seorang nenek, usia 81 tahun, yang masih nampak sangat sehat.
Beliau mengantarkan kami ke lantai 2, dan meninggalkan saya dan
Apsaras untuk berdiskusi.
Apsaras jatuh hati dengan suasana kamar dan rumahnya.
Kamar yang ada terletak di sudut, dengan 2 jendela besar.
Sebuah lemari kayu, tempat tidur, kipas angin.
Dan … sebuah meja tulis besar ( sebuah fasilitas yang tidak ada di kamar-kamar kos lain, sepanjang siang tadi kami survey )
Rumahnya, sebuah rumah lama, hanya ada 4 kamar kos di lantai 2.
Mempunyai teras nyaman dan halaman yang teduh.
Tanpa pikir panjang dan memang tidak ada waktu lagi untuk mencari
yang lain dan membandingkan untuk kesekian kalinya, akhirnya saya
memutuskan memberi tanda jadi untuk menyewa kamar ini.
Semoga Apsaras betah di rumahnya yang baru.
malam, saya handoko..
saya juga cari kos sekitaran jl birah..mhn infonya alamat kost tersebut atau nomor teleponnya..
saya pegawai bumn, di sekitar jl gatot subroto
tks
Oleh: handoko on 27 Maret 2011
at 2:14 pm
maaf, tapi ini khusus kos perempuan.
kalau ga salah ada juga koq yg lain, tapi tidak tahu nomornya.
bisa tanya ke tukang ojek sekitar blok S.
Oleh: beehani4 on 29 Maret 2011
at 4:47 am