Oleh: beehani4 | 20 November 2011

rekening bersama

Apsaras bercerita bahwa teman-temannya yang baru menikah
atau yang akan menikah, ramai-ramai berencana membuka
rekening bersama, antara temannya itu dengan calon pasangannya.
Apsaras menanyakan kepada saya, apakah hal tersebut bermanfaat?
Karena saya selama puluhan tahun berumah tangga tidak pun
membuat rekening bersama dengan suami, maka saya tidak mengerti
tujuannya.
Saya anjurkan Apsaras bertanya saja ke teman-temannya itu, apa
tujuaannya membuka rekening bersama.
Bahkan saya bergurau, mungkin baik dan bermanfaat adanya, apabila
suaminya kaya raya dan mencukupi segala kebutuhan istrinya.
Ternyata alasannya macam-macam.
Ada yang agar biaya pernikahan dapat ditanggung bersama.
Ada yang agar memiliki tabungan bersama.

Pada suatu acara kumpul-kumpul dengan teman-teman, saya ceritakan
kisah Apsaras. Satu-satu saya menanyakan apakah ada diantara teman-teman
yang memiliki rekening bersama, antara dia dan suaminya.
Dari ber-6, semuanya menggeleng.
Salah seorang teman ada yang membuka rekening bersama adalah untuk
tujuan pekerjaan, karena kebetulan teman saya dan suaminya membuka
perusahaan.
Kami bercanda ke salah satu teman yang kebetulan ibu rumah tangga
dan tidak bekerja serta suaminya menurut kami kaya raya.
“Harusnya kamu tuh yang punya rekening bersama”.
Ternyata teman saya menyangkal, karena suaminya tidak berkenan membuka
rekening bersama.
Teman saya ini mempunyai beberapa rekening, untuk kebutuhan keluarga
dan anak-anak, yang secara teknis dia mengajukan anggaran selama
satu tahun ke depan.

Jadi sebetulnya apa tujuan rekening bersama?
Menurut saya, sebagai perempuan bekerja, sebaiknya tidak perlu membuka
rekening bersama suami.
Kalau misalnya gaji istri lebih besar daripada suami, rasanya tidak pas
kalau salah satu fihak memanfaatkan yang lainnya.
Supaya tidak terjadi kasus, suami ternyata menikah lagi dan membiayai
segala kebutuhan hidup barunya dari rekening bersama yang dibuat bersama
istri tuanya.
Kalau misalnya ada biaya yang ditanggung bersama, yaaa sudah bagi dua.
Salah satu pihak mentransfer ke pihak lain, dan pakailan salah satu
rekening tersebut untuk mengurus keperluan bersama tadi.
Rasanya lebih fair.

Oleh: beehani4 | 20 November 2011

lunturnya komitmen

Ketika pasangan memutuskan untuk menikah, maka harapannya
kedua insan tersebut bersama-sama sepanjang hidup sampai ajal menjelang.
Tetapi apa yang terjadi?
Satu demi satu teman-teman saya mengalami gonjang-ganjing
masalah dalam pernikahannya justru diusia pernikahan sesudah
puluhan tahun.
Setahun ini ada 2 kenalan yang memutuskan berpisah diusia
pernikahan ke 27. Salah satu pasangan bahkan berstatus kakek-nenek.
Alasannya beragam, ada yang merasa anak-anak sudah besar dan
tidak perlu bimbingan orangtua lagi.
Ada yang merasa tidak ada kecocokan sejak lama dan merasa
inilah saat yang tepat untuk memutuskan sesuatu.
Ada teman lain lagi yang teman hidupnya menjalin hubungan
dengan bekas pacar. Dan berencana untuk membangun pernikahan
baru dengan bekas pacar ini lalu menduakan istrinya yang telah
mendampinginya selama 27 tahun.

Komitmen berpasangan harapannya adalah menerima pasangan
dengan segala kekurangan-kelebihan dalam senang-susah dan
dimasa muda-tua.
Kenapa ketika tubuh mulai tua, ketika kekurangan menjadi
semakin jelas dan ketika kesenangan hanya tinggal kenangan,
pasangan-pasangan itu tidak saling menopang sehingga dapat
tetap berjalan berdampingan?
Kenapa ketika tubuh mulai tua, lalu memutuskan inilah saatnya
untuk ditinggalkan?
Kenapa kekurangan yang ada dibiarkan menjadi semakin besar
nampak kekurangannya, tanpa pernah dibicarakan upaya untuk
memperbaiki kekurangan menjadi kelebihan?
Kenapa kesenangan yang pernah dilakukan bersama anak-anak,
tidak dilakukan lagi sebagai pasangan?

Banyak pertanyaan ‘kenapa’?…..

Saya selalu iri dengan pasangan sepuh, diusia pernikahan ke
40sekian, masih akur, masih asyik berbincang dan masih selalu
melakukan banyak hal bersama-sama.
Bersyukurlah pasangan-pasangan itu yang sudah sampai pada tahap
‘kamu adalah yang terbaik yang dititipkan Allah SWT kepadaku’….
TANPAMU APALAH ARTINYA DIRIKU……

Oleh: beehani4 | 23 Agustus 2011

garis batas

Beberapa teman saya dan saya juga, mempunyai anak-anak yang sudah bekerja.
Entah darimana datangnya, ada semacam ungkapan yang tak tertulis,
apabila anak sudah bekerja atau sudah berusia 25 tahun, maka dianggap dewasa.
Seolah-olah apabila anak sudah dewasa maka selesai sudah tugas orangtua.
Memang secara finansial, anak-anak sudah bisa mencari uang sendiri.
Beberapa anak teman saya, gajinya lebih besar daripada orangtua mereka.
Dengan gaji besar, mereka bisa melakukan apa saja.

Benarkah begitu?

Apakah tanggungjawab orangtua sebagai pembimbing anak-anak mereka sudah selesai?
Bagaimana dengan moral?
Saya melihat, hubungan pertemanan diantara anak-anak sekarang menjadi semakin
semakin permisif.
Salah seorang teman saya, membiarkan anak perempuannya pulang malam-malam
melebihi jam 12 malam.
Membiarkan saja anak perempuannya satu kos dengan teman laki-lakinya.
Dan tidak menegurnya, karena suatu kebetulan si anak perempuan dijumpai
ada di kamar kos teman kosnya tersebut.
Terjadi sesuatu atau tidak terjadi sesuatu, tidak pernah dibicarakan antara
orangtua dan anak.
Tidak pernah ada ketidaksetujuan atas perilaku anak, dengan dalih anak
sudah dewasa, sehingga tidak pantas untuk dinasihati lagi.
Orangtua membolehkan saja anak pergi berdua keluar kota bahkan keluar
negeri, karena anak-anak sendiri yang membiaya seluruh perjalanannya.
Benarkan sikap orangtua seperti ini?
Bagaimana dengan anda?

Saya sampaikan kerisauan saya, ke anak-anak saya.
Mereka sangat mengerti dan berjanji tidak berperilaku seperti yang saya
risaukan.
Berjanji tidak melampaui garis batas, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.
Insya Allah……….

Oleh: beehani4 | 6 Februari 2011

comfort zone

Mungkin arti harfiahnya comfort zone adalah area yang menyenangkan.

Area apa dan menyenangkan untuk siapa?

Kalau untuk anak-anak yang sudah dewasa, sudah bekerja tetapi masih tinggal dengan orangtuanya.

Comfort zone nya yaaa itu, tinggal dengan orangtua itu.

Tidak memikirkan bayar listrik, makan tinggal makan, kadang-kadang menyumbang orangtua.

Bagaimana kalau tiba-tiba orangtua menanyakan :

Kapan dia membentuk keluarga?

Kapan dia akan punya rumah sendiri?

Nah, mulailah anak berpikir …..

Oh iya yaaa…. saya harus berubah.

Atau seseorang yang tidak berpikir untuk pindah kerja mencari yang lebih menantang atau bergaji besar, tetapi nrimo saja kondisi yang dia peroleh sekarang ini.

Itulah comfort zone.

Seseorang yang sudah “nyaman” dengan kondisinya.

Sementara orang lain, menilainya sebagai orang yang apatis dan pasif serta tidak punya keingingn untuk maju dan berkembang.

Kembali ke masalah anak dengan comfort zone nya tadi.

Bisa jadi dia nyaman dengan comfort zone nya, tetapi orangtuanya gemas melihat ketidakpeduliannya.

Sebetulnya….. apakah memang betul ada comfort zone?

Atau seseorang itu memang “malas” untuk berkembang?

Oleh: beehani4 | 15 September 2010

ritual yang hilang

Ayah saya meninggal tahun 1997 dan dimakamkan di Kalibata – Jakarta.
Ayah & ibu mertua pun dimakamkan di Tanah Kusir – Jakarta.
Ibu saya, adik-adik ibu saya, kakak & adik-adik saya dan kakak-kakak suami semua bertempat tinggal di Jakarta.
Sudah menjadi tradisi di keluarga kami, di hari Idul Fitri, kami sekeluarga, kakak saya dan suaminya, kami sekeluarga dan adik saya dan keponakan saya mengantarkan ibu untuk ziarah ke makam ayah saya.
Tradisi “nyekar” biasanya kami lakukan di hari ke dua, dengan harapan tidak seramai di hari pertama.
Dari Kalibata, dilanjutkan ke Menteng Pulo, ke makam kakak tertua saya, yang meninggal di tahun 1969, di usianya yang masih 19 tahun.
Siang harinya, kami sekeluarga melanjutkan perjalanan ke Tanah Kusir.
Untuk “nyekar” ke makam ayah dan ibu suami saya, yang dimakamkan berdampingan.

Waktu berlalu.
Tanpa terasa kami pun tidak sekuat dulu lagi tenaganya.
Perjalanan dari Bandung ke Jakarta, yang biasa kami lakukan sehari sebelum hari Raya, bergeser keesokan harinya.
Dengan demikian kami berangkat sesudah sholat Ied.
Perjalanan lebih santai, sepi karena melawan arus dan tidak dalam keadaan puasa.

Lalu, ritual ke makam menjadi hal-hal yang dirasa kurang penting.
Berbondong-bondong ke makam dengan fokus keselamatan dan kenyamanan Ibu, kenapa terasa melelahkan.
Kenapa harus ke makam ? Kenapa harus menabur bunga ? Kenapa harus berdo’a di makam ?
Toh, berdo’a untuk ayah saya, selalu saya lakukan setiap sholat.
Toh, tidak wajib dalam agama.
Iya sih, ziarah ke makam bagus untuk mengingatkan kita semua akan kematian.

Di tahun 2010, beberapa peristiwa terjadi.
Lalu diputuskan kami tidak ziarah, baik ke Kalibata, Menteng Pulo maupun ke Tanah Kusir.
Ritual ke makam ayah diwakilkan ke adik saya.

…………

Adik saya mengunggah foto-foto hasil ke makam ayah dan kakak saya tersebut ke e-mail kami semua.
Ada laporan-laporan tentang kondisi makam Kalibata dan Menteng Pulo.
Tiba-tiba saya merasa sedih, saya menangis dalam hati.
Saya rindu ke makam ……
Saya rindu ayah saya …..

Oleh: beehani4 | 9 September 2010

berapa gaji (anak) mu ?

Pada suatu hari seorang teman menelpon menanyakan kabar saya.
Setelah berbasa-basi sana-sini, sampailah pada topik tentang anak  saya, Apsaras yang baru dua minggu ini bekerja di Jakarta.
Mula-mula saya bercerita tentang perburuan kami akan kamar kos untuk Apsaras. Harga kamar dan tentang kondisi kamar serta lingkungan yang Apsaras harapkan.
Tiba-tiba teman saya ini bertanya berapa gaji Apsaras.
Saya menyebutkan sejumlah angka.
Teman : “Haah, kecil amat …. mana cukup di Jakarta sebesar itu. Kamu harus bantu dong”.
Saya : “Bantu ? …. Ah, tidak, biar dia belajar mengatur”.
Teman: “Tapi kan masak sih segitu ?”
Saya : ” Yaaa, emang segitu. Mana ada ? Fresh graduate ? Wong sebelumnya di Jakarta Barat, dia minta sekian-sekian, dianggap terlalu tinggi”.
Teman : “Masih training kali. Dulu Zahra (nama anaknya) juga begitu sih. Training 4 bulan, ga digaji. Tetapi sesudahnya gajinya $ 900,-”.
Saya : “Gak tahu lah training atau enggak. Pokoknya segitu”.
………

Saya mulai merasa tidak nyaman dan tersinggung.
Tetapi demi tata-krama, saya masih mendengarkan teman saya ini membicarakan anaknya …. bla-bla…..
Kenapa yaaa,  saya merasa terhina.
Memang, gaji Apsaras mungkin 1/4 gaji anak teman saya itu.
Lalu apa ?
Apsaras menerima pekerjaan itu. Perusahaan disain itulah yang memang menjadi tujuan pekerjaannya setelah dia lulus. Dalam 1 bulan setelah lulus dengan cum laude, memperoleh pekerjaan yang dia idam-idamkan ?
Bagi saya, ibunya, adalah karunia dari Allah.

Setelah kejadian tidak menyenangkan hati saya itu, saya berjanji pada diri saya.
Bahwa, siapapun yang menanyakan berapa gaji anak-anak saya ?
Saya tidak akan jawab.
Daripada saya menghadapi resiko terhina atau dibanding-bandingkan.

Bagi saya, sms berikut dari Apsaras :
“Bu, Insya Allah, bulan depan, Ibu gak usah kirim uang saku ke saya lagi”…………..
Adalah pernyataan kemandirian seorang anak, yang sungguh tak ternilai oleh uang, ribuan Dollar sekalipun.

Saya terharu dan bangga.

Alhamdulillah.

Oleh: beehani4 | 9 September 2010

berburu kamar kos

Apsaras meraih mimpi.
Padasuatu hari Rabu, dia harus ke Jakarta untuk wawancara kerja.
Sebuah perusahaan desain komunikasi visual yang beralamat di
jalan Wijaya – Kabayoran, Jakarta Selatan.
Ternyata ada kecocokan tugas kerja, kesepakatan gaji dan lokasi
kantor. Diputuskan, Apsaras mulai kerja Senin.
Artinya hanya punya 4 hari untuk mencari tempat tinggal yang sesuai.
Memang ada rumah pakde yang siap menerima dengan tangan terbuka.
Tetapi Apsaras, didukung oleh ayah dan bundanya, memutuskan cepat
atau lambat harus bisa mandiri, tidak selalu tergantung pada kerabat.

Minggu pagi, saya berdua Apsaras berangkat ke Jakarta dengan bis kota.
Turun di Lebakbulus, perjalanan dilanjutkan dengan taxi.
Setelah melayat ke adik ibu saya yang wafat malam sebelumnya, maka
dengan diantar Tatah kami siap berburu kos untuk Apsaras.

Malam sebelumnya saya sempat browsing tempat kos putri yang berlokasi sekitar kantor Apsaras di www.infokost.net.
Dengan mempelajari melalui Google Earth, saya bisa membayangkan jarak antara kantor dan rumah.
Maka, tujuan pertama adalah jl. Dharmawangsa.
Kamar yang ditawarkan ber AC seharga 1,5 juta per bulan.
Kamar yang ditawarkan melalui internet, seharga 700 ribu, sungguh
tak layak sebagai kamar. Merupakan kamar loteng, berlantai kayu, tidak ada jendela yang bisa dibuka, dinding setengah kayu, atap asbes dan terletak di atas kamar mandi.
Perburuan dilanjutkan ke jl. Ketimun. Sampailah ke jl. Ketimun IV.
Deretan kamar-kamar, seharga 700 ribu tanpa AC, kamar mandi di dalam.
Atau sekitar 1 – 1,25 juta dengan AC.
Lalu, jl. Ketimun V. Berjalan kaki menyusuri jl. Antena.
Menyusuri jl. Petogogan, ke jl. Benda III.
Kembali lagi ke pasar blok A.
Kembali lagi ke jl. Ketimun VI dan VIII, berbelok ke jl. Kubis.
Mencatat nomor telpon yang ada di dinding rumah orang, di tiang listrik.
Keluar masuk ke kamar-kamar kos yang dicari, membandingkan kamar.
Membangunkan penjaga yang tengah tidur siang, maklum waktu itu bulan puasa, dan jam menunjukkan jam 15.00 WIB.
Berbincang dengan bu Mimih, mas Gino, pak H.Amrizal, menelpon penjaga kos Mama Nindhi.
Harga yang ditawarkan antara 350 ribu sampai 2,5 juta rupiah perbulan.
Dengan fasilitas yang berbeda, kamar mandi di dalam, kamar mandi di luar, AC, non Ac, WiFi, cuci dll.

Lelah menyergap. Setelah menelusuri 10 tempat kos berbeda, kami memutuskan kamar kos terakhir di rumah H.Amrizal – jl. Ketimun VI lah mungkin yang menjadi rumah kos Apsaras kelak.
Pemiliknya, suami-istri cukup ramah, kamar yang ditawarkan standar, 700 ribu perbulan.

Menjelang maghrib, kami diantarkan ke rumah PakDe, tempat Apsaras
menginap selama ini, atau sampai mendapatkan tempat kos yang memadai.
Tiba-tiba, suami dari Bandung menelpon, bahwa saudara sahabatnya di jl. Birah juga mempunyai kos-kosan. Kebetulan ada 1 kamar kosong.
Setelah berbuka dan sholat maghrib, dengan menyewa bajaj, saya dan Apsaras melanjutkan perburuan.
Rumah seorang nenek, usia 81 tahun, yang masih nampak sangat sehat.
Beliau mengantarkan kami ke lantai 2, dan meninggalkan saya dan
Apsaras untuk berdiskusi.
Apsaras jatuh hati dengan suasana kamar dan rumahnya.
Kamar yang ada terletak di sudut, dengan 2 jendela besar.
Sebuah lemari kayu, tempat tidur, kipas angin.
Dan … sebuah meja tulis besar ( sebuah fasilitas yang tidak ada di kamar-kamar kos lain, sepanjang siang tadi kami survey )
Rumahnya, sebuah rumah lama, hanya ada 4 kamar kos di lantai 2.
Mempunyai teras nyaman dan halaman yang teduh.
Tanpa pikir panjang dan memang tidak ada waktu lagi untuk mencari
yang lain dan membandingkan untuk kesekian kalinya, akhirnya saya
memutuskan memberi tanda jadi untuk menyewa kamar ini.

Semoga Apsaras betah di rumahnya yang baru.

Oleh: beehani4 | 25 Juli 2010

pilih satu hari

Daridaru dan Apsaras, dua-duanya sudah sarjana dan punya penghasilan.
Mereka masih tinggal bersama kami.
Rutinitas rumahtangga berjalan seperti biasa.
Ibu bersama ayah menyiapkan sarapan.
Pembantu menghangatkan untuk keperluan sarapan.
Ibu memasak untuk makan siang dan malam.
Kadang-kadang saja, pembantu memasak untuk makan siang dan malam.
Karena pembantu tidak pandai memasak atau masakannya tidak ada
yang suka.
Ibu berpikir, bagaimana ini ?
Apa bedanya punya anak kecil dan punya anak sudah sarjana ?
Lalu, pada suatu hari Ibu mengumumkan ke anak-anak.
Pilih satu hari dalam satu minggu, apa saja, kalian harus
menyiapkan makan untuk seluruh keluarga.
Boleh beli, boleh menyuruh pembantu, boleh memasak sendiri”.
Hening.
Ayah langsung setuju.
Daridaru : Saya pilih Jum’at.
Apsaras : Saya Rabu.
OK.

Minggu pertama setelah pengumuman.
Rabu.
Ibu pergi ke luar kota untuk menengok teman yang sakit parah.
Sepanjang jalan adalah konsultasi resep antara Ibu dan Apsaras,
melalui sms.
Resep yang dipilih Kol Isi Daging Cincang dengan Kuah Semur.
Malam kembali ke rumah masih bisa mencicipi hidangan masakan
Apsaras.
Hmmmm …. little bit spicy …. but it’s OK.
And Apsaras is very exciting, what would I cook for next Wednesday ?

Jum’at.
Giliran Daridaru.
Ibu pergi, pagi kerja dan siang presentasi seminar.
Malam, makan malam bersama.
Daridaru menyiapkan Mie Goreng Instant & Sosis dan Goreng Nugget.

Maka minggu-minggu ke depan, anak-anak antara semangat atau terpaksa,
makanan harus siap dihari-hari yang mereka pilih sendiri.

Terimakasih yaaa.
Akhirnya ada hari istirahat memikirkan rumahtangga.

Oleh: beehani4 | 25 Mei 2010

terjebak ?


Kata “terjebak” menjadi kata guyon yang entah lucu atau tidak bagi yang tahu maksudnya.

Ceritanya :
Kami, 11 orang, teman seperguruan tinggi, sejurusan, seangkatan dan perempuan semua, sepakat melakukan perjalanan bersama-sama.
Rencana anggaran disusun. Rekening dibuat, kode transfer disusun, sehingga pemegang rekening dapat mengetahui asal-muasal transfer.
Membuat grup milis untuk memudahkan komunikasi.
Jadwal perjalanan disusun, semua mengandalkan browsing dari internet.
Daftar barang yang boleh dan tidak boleh dibawa disebarkan ke teman perjalanan.
Kami menjadi sangat bersemangat.
Disela-sela e-mail tersirat, betapa ternyata suami kami masing-masing agak iri dengan rencana perjalanan kami ini.
Lalu, tiba-tiba, salah seorang diantara kami selalu menambahkan kata “merdeka” diakhir e-mailnya.

Kami, hampir semuanya telah belasan tahun menikah. Bahkan ada diantara kami yang telah 25 tahun menikah.
Membina rumahtangga selama belasan tahun begini, perlu upaya dan komitmen yang harus dijaga bersama.
Tetapi, ternyata tidak semua semulus yang nampak selama ini.
Ini terungkap dari kata-kata yang tersirat dalam e-mail maupun obrolan pada tiap pertemuan saat memantapkan rencana perjalanan.
Beberapa diantara kami, mempertahankan perkawinan karena tidak tahu harus berbuat apa selain bertahan.
Tidak bisa lain, untuk tetap bertahan adalah menerima pasangan apa adanya. Suka atau tidak suka, dialah pilihan yang (dikira) terbaik.

Akhirnya muncullah kata guyonan tadi, “terjebak”.

Oleh: beehani4 | 16 Mei 2010

mencari kejujuran

Pada suatu hari, minggu Ujian Tengah Semester di sebuah Perguruan Tinggi di Bandung Utara, di jurusan Teknik Arsitektur.
Matakuliahnya Arsitektur Kota.
Sesuai dengan ketentuan di perguruan tinggi tersebut, saya sebagai Dosen pengampu harus mengawas sendiri matakuliah yang diujikan.
Sifat ujian “Tutup Buku” dan waktu ujian 90 menit.
Kelas seluas 7 X 7 m tersebut diisi oleh peserta ujian sebanyak 30 an mahasiswa.
Mahasiswa duduk terlalu berdekatan, karena ruangan sempit. Apalagi mereka berdalih, tempat duduk sudah diatur menurut nomor urut yang terpampang di pintu kelas.
Akhirnya saya harus mengawasi ketat.
Menit-menit terakhir, peserta mulai menengok kiri-kanan.
Saya tahu mereka berusaha menyontek.
Seorang mahasiswa sibuk menyalakan telpon selular seolah-olah sms.
Telpon selular Blackberry. Saya curiga, jangan-jangan dia “menengok” materi kuliah yang sempat saya upload melalui kuliah on-line.
Saya memerintahkan untuk menyimpan Blackberry nya.
Saya juga meng-”sms” Ketua Jurusan, memprotes posisi duduk yang terlalu dekat tersebut.
Jawaban Ketua Jurusan, saya dipersilahkan mengatur sendiri posisi duduk para mahasiswa.

Waktu berlalu. Tibalah masa Ujian Akhir Semester.
Berbekal pengalaman pada waktu UTS, saya mengatur posisi duduk mahasiswa berselang-seling. Saya menegaskan, tidak perlu mengikuti posisi duduk seperti terpampang di pintu.
Sifat ujian saya buat “Buka Buku” sekalian, dengan ketentuan harus dari catatan masing-masing.
Mahasiswa baru saya beritahu sesaat sebelum Ujian, bahwa sifat ujian “Buka Buku”. Waktu Ujian 60 menit.
Pada waktu ujian, mahasiswa sangat sibuk mencari jawaban, tidak ada waktu untuk berusaha menyontek.
Pada kesempatan lainnya, ujiannya berupa presentasi.
Memang waktu yang dibutuhkan lebih lama.
Tetapi menurut saya, inilah sistem penilaian yang paling tepat.
Mahasiswa bertanggungjawab secara keilmuan di depan teman-temannya, disanggah, mempertahankan dan tentu saja tidak mencontek.

Ujian dan mencontek, sepertinya sudah menjadi satu paket.
Begitu pula dengan tugas-tugas yang ditugaskan oleh Dosen kepada mereka. Dengan adanya internet dan Mr.Google, hampir semua materi ada di “langit”. Dengan mudah mahasiswa mengunduh materi atau saling bertukar materi.
Apabila ditugaskan untuk membahas suatu topik, entah sumber dari siapa dan dari mana, hampir dipastikan 70 % kelas, isi makalahnya sama.
Hampir dipastikan satu salah, maka semua salah.
Bagaimana dengan jurusan Teknik Arsitektur ?
Autocad memudahkan sekaligus menyebarkan plagiarism.
Jasa print dan plotter disekitar kampus, merupakan bank data segala macam hasil rancangan hampir semua tugas, bahkan tugas akhir dari hampir semua perguruan tinggi di Bandung.
Mahasiswa sering mengambil jalan pintas dengan membeli hasil rancangan dari tempat plotter, mengcopy dan mengedit sedikit, disesuaikan dengan lokasi tugas, mengganti nama dan mencetak ulang.

Sebuah e-mail berjudul “Curhat dari mahasiswa yang mencintai ST-INTEN”
dilayangkan oleh seorang mahasiswa yang tidak puas dengan pelaksanaan Ujian Tengah Semester di ST-INTEN.
Dengan kondisi lembaga seperti sekarang, rasanya jawabannya bermuara di satu hal, kenapa pengawas tidak bekerja optimal.
Menugaskan Dosen untuk mengawas sendiri Ujiannya, berujung kepada, Dosen yang bersangkutan menugaskan lagi ke Tata Usaha Jurusan untuk mengawaskan ujiannya.

Tetapi, seandainya, ST-INTEN dalam kondisi “normal” apakah tidak akan terjadi contek-menyontek ?
Perguruan tinggi seperti yang saya ceritakan di awal tulisan ini, bukan di ST-INTEN, dengan kondisi keuangan yang saya yakin sangat stabil.
Bahkan ujian diawasi sendiri oleh Dosen Pengampunya.
Duapuluh tiga tahun menjadi dosen, selain saya harus selalu meningkatkan mutu materi kuliah, saya sekaligus harus memutar otak untuk membuat soal yang tidak memungkinkan mahasiswa untuk saling mencontek, walaupun mereka duduk bersebelahan sekalipun.

Pertanyaannya adalah, apakah masih ada kejujuran di antara mahasiswa ?

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.